Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, merupakan generasi pertama yang benar-benar tumbuh di dunia yang terhubung secara digital. Bagi mereka, internet dan media sosial bukanlah teknologi baru, melainkan lingkungan alamiah. Pola konsumsi media mereka berbeda secara fundamental dari generasi sebelumnya, dengan preferensi kuat terhadap konten visual, singkat, dan interaktif.
Dalam konteks ini, TikTok telah muncul sebagai platform dominan. Lebih dari sekadar aplikasi video pendek, TikTok telah menjadi pusat budaya, tempat tren lahir, dan ruang komunitas bagi Gen Z. Dengan lebih dari 60% pengguna aktif globalnya berasal dari kelompok usia ini, TikTok menawarkan "jalan tol" langsung untuk memahami dan terhubung dengan pasar masa depan yang sangat berpengaruh ini. Keberhasilan pemasaran di sini tidak lagi hanya tentang visibilitas, tetapi tentang menjadi bagian yang relevan dari percakapan digital mereka.
Untuk menjangkau Gen Z di TikTok, brand perlu mengadopsi pendekatan yang native terhadap platform, berfokus pada pembangunan komunitas daripada sekadar siaran iklan. Strategi harus berpusat pada penciptaan nilai, baik dalam bentuk hiburan, edukasi, atau partisipasi dalam tren budaya. Kunci utamanya adalah adaptasi cepat, keaslian, dan kesediaan untuk "bermain" di dalam aturan budaya platform yang unik.
"Kesuksesan pemasaran di TikTok untuk Gen Z terletak pada pergeseran paradigma: dari interupsi menuju keterlibatan, dari siaran menuju percakapan, dan dari transaksi menuju hubungan."
Telkomsel dengan kampanye #LoakinPastiLaku berhasil menyentuh Gen Z dengan konten yang relevan dengan kehidupan pelajar dan mahasiswa, dikombinasikan dengan challenge dan giveaway interaktif yang meningkatkan engagement secara signifikan.
Traveloka menggunakan strategi #BukaTraveloka dengan memanfaatkan audio dan visual trending untuk menyampaikan promo travel secara informatif dan menarik, menghasilkan peningkatan konversi yang nyata.
Fitur augmented reality (AR) dan integrasi e-commerce yang semakin dalam membuka peluang inovasi lebih luas bagi brand. Kunci utamanya tetap pada pemahaman psikologi Gen Z: mereka menghargai autentisitas, kreativitas, dan nilai sosial dalam setiap interaksi dengan brand.
Platform TikTok menuntut brand untuk lebih manusiawi, responsif, dan menjadi bagian dari komunitas. Dengan memprioritaskan keaslian, nilai tambah, dan partisipasi budaya yang tulus, brand tidak hanya dapat mencapai Gen Z hari ini, tetapi juga membangun fondasi loyalitas yang kuat untuk kepemimpinan pasar di masa depan.